Langsung ke konten utama

Alon-alon Waton Kelakon



Alon-alon waton kelakon
Kepakaran yang tepat waktu dalam tindakan mengambil keputusan


Kamus Jogja (4)
Alon-alon berarti pelan-pelan dalam menjalankan tugas. Kelakon berarti tercapai. Alon-alon waton kelakon mempunyai makna biar pelan asalkan kesampaian apa yang diingini.
Pengertian alon-alon di sini adalah tindakan yang penuh dengan kecermatan dan perhitungan agar tidak tergelincir dan terpeleset sehingga terhindar dari kerugian. Alon-alon yang benar mengandung unsur hati-hati, teliti, sopan, dan berkelanjutan. Bagi pelakunya sering mendatangkan kritik, karena pihak pengamat melihatnya sebagai sesuatu yang lamban mendatangkan hasil untuk dinikmati. Kalau pekerjaan sudah selesai dan hasil telah tampak, orang lain dengan sendirinya mengakui. Kecaman dan umpatan dengan sendirinya menghilang.
Kelakon atau kesampaian merupakan buah dari alon-alon yang benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Istimewa "Dari Yogyakarta Menuju Indonesia Lebih Baik"

Salam Istimewa "Dari Yogyakarta Menuju Indonesia Lebih Baik" 2018

Bawa Leksana

Bawa leksana Menepati dan menetapi kata-kata Kamus Jogja (6) Arti ungkapan bawa leksana adalah menepati dan menetapi kata-kata. Sabda brahmana raja sepisan kudu dadi tan kena wola-wali, mengandung makna bahwa perkataan ulama dan umara itu harus bisa dipegang. Oleh karena itu sebelum diucapkan harus dipikirkan masak-masak. Raja dan brahmana merupakan figur panutan yang diikuti oleh banyak orang. Idiom esuk dhele sore tempe hanya patut diucapkan oleh pedagang di pasar yang hanya mengejar laba tak memikirkan dampak kata-katanya. Sangat berbahaya bila pemuka masyarakat cepat-cepat berubah ucapannya hanya untuk menuruti selera sesaat. Orang yang mencla-mencle akan menyusahkan. Lire kang bawa leksana anetepi pangandika adalah suatu ungkapan yang penuh dengan prinsip luhur yang perlu dipraktikkan para pemimpin.

Batik

Batik  Lukisan atau gambar sakral Kamus Jogja (2) Menurut KRT Manu W. Padmadipura, dengan merujuk Kakawin Ramayana, “batik” berasal dari “tika” (Jawa Kuna) yang berarti lukisan atau gambar sakral. Konsep batik Jawa terdapat dalam Citrabuwana, yang menghubungkan tubuh manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos). Membatik atau dalam kosakata Jawa lazim disebut mbatik adalah melukiskan keterhubungan alam semesta yang sakral bersama manusia dengan tindakan bakti.